Singapore Biennale 2011.

Singapore Biennale 2011.

Pas saya buka-buka folder foto di komputer, ketemu folder foto Singapore Biennale 2011. Rencananya sih mau buat jurnalnya, tapi ya tertunda… sampe sekarang. Dasar pemalas.

Sekitar bulan April 2011, saya ke Singapore, sendiri, tapi disana udah janjian sama Raymond sekeluarga yang akan menonton Lion King. Janjian ke Singapore bareng, udah pasti ke Sentosa. Ketemunya aja disana.

Mereka tp cuma 2 hr 2mlm, sedangkan saya 4 hari. Sekitar 2 hari terakhir saya jalan-jalan sendiri menikmati Singapore Biennale ini. Seru sih, tapi lumayan cape, jalan melulu. hari terakhir aja saya sempat tiduran di kursi di Vivo City, saking capeknya.

Singapore Biennale ini digelar di 4 venue, yaitu Singapore Art Museum (SAM), Singapore National Museum, Marina Bay dan Old Kallang Airport. Secara keseluruhan karya-karya yang hadir disini tidak terlalu jedang gitu ya, menurut saya masih lebih menarik Jakarta Bieannale atau waktu perayaan ultah Galnas dulu, tapi tetap menarik kok. Venue Old Kallang yang cukup banyak karya yang spektakuler, venuenya pun juga keren, bekas airport lama yang kelihatannya peninggalan jaman kolonial dulu. Dari venuenya sendiri pun udah memberi efek yang beda, ditambah karya-karya disana rasanya memang lebih dahsyat.

Ada 1 karya di marina bay yang tidak bisa saya masuki, Merlion Hotel. Hotel yang dibangun tepat di bawah patung Merlion, bangunan yang temporary pastinya, tapi yang seru adalah, tempat tidur disitu persis dibawah mulut patung Merlion yang biasa mengeluarkan air. Itu airnya keluar gak? Yakale keluar, kaga lah! Ada sih yang keluar disitu, tapi bukan air dari Merlion. Air yang lain. (ayo dong mikir jorok, mikir jorok

Ada lagi karya yang menurut saya keren banget. Ada video art, judulnya “Flooding McDonalds”, jadiceritanya menenggelamkan restoran ronald itu sampe bener2 tenggelam. keren abis. Ada videonya disini kok. (kalo belum hyperlink ya brarti belum saya upload videonya)

Banyak cerita yang saya sendiri sudah lupa, kita lanjutkan sambil liat foto-foto ya.

 

Singapore Art Museum dan Singapore National Museum

Venue yang paling awal saya kunjungi adalah SAM dan Singapore National Museum. Selain gedungnya yang megah dan bagus sekali, ada hal tersendiri yang jadi catatan saya, bukan catatan si boy. Di kedua museum ini, saat kita masuk akan diberi sebuah electronic guide, berupa sebuah konsol dengan earphone. Di setiap spot ruangan, ada nomor yang bisa kita ketik di konsol itu untuk kemudian otomatis akan keluar penjelasannya. Canggih ya?

Selain itu  di bagian sejarah singapura, penyajiannya berupa video yang berisi dua orang story teller bercerita tentang sejarah Singapura. Seru banget ini. Beneran deh.

Electronic guide di Singapore Art Museum
Megahnya Singapore National Museum
Ini juga Singapore National Museum. Keren banget.
Electronic Guide di Singapore National Museum/ Lebih gede,mungkin karena gedungnya lebih gede daripada SAM.

 

Story teller, cerita tentang sejarah Singapura.

 

Singapore Biennale 2011

Di Singapore Biennale ini ada juga karya dari Indonesia, kelompok Ruang Rupa mewakili Indonesia. Tuh fotonya ada di bawah. Selain itu ada juga beberapa karya seniman Indonesia yang jadi koleksi Singapore Art Museum ini, siapa aja mereka? Rahasia dong..liat aja sendiri kesana. (padahal gue lupa).

Mau liat foto-foto karya yang lain? Disini niih

Mau liat videonya Flooding Mc Donalds? disini nih

Di depan karya video art di SAM. Lupa siapa senimannya.
Karya sayap malaikat, dibuat dari sendal jepit loh.
Karya dari Ruang Rupa, Indonesia.
Karya sadistis, tapi tampil dengan penuh warna, colourful.
Karya yang paling saya ingat dari venue Old Kallang airport. Keren.

 

Bertemu teman

Selama di Singapore saya juga sempat ketemu beberapa teman, salah satunya Danny, teman kuliah saya di Arsitek Unpar dulu, ketemunya juga gak sengaja banget. Selain itu juga ketemu si cantik Shyrin, kalo ini kita emang janjian..kalo sama Shyrin gak sengaja ketemu juga, berarti jodoh (maunya). Shyrin kebetulan lagi liburan juga disana…sama pacarnya. Lalala. Yeyeye. Udah punya pacar yeee…

 

Bareng si cantik Shyrin.

 

Penginapan yang nyaman

Seperti liburan terdahulu, apartemen Wina salah satu sahabat saya di Singapore adalah pilihan utama untuk menumpang tidur. Apartemennya enak banget book. Kolam renangnya bagus (walau gue gak berenang) terus yang paling penting ya jadinya gratis akomodasi,hehehe.. Kata Wina dia udah gak tinggal di apartemen ini lagi,. Gapapa Win, walau pindah kemanapun, pasti aku tetap nebeng kalau ke Singapore lagi. Yeyeye.

Apartemen Wina yg nyaman.
Kolam renang di apartemennya Wina

Sampai jumap di Singapore Biennale berikutnya. Salam kompak.

Jangan lupa kalo mau liat foto-foto karya yang lain, klik aja disini


No excuse

No excuse

Gademit! Untuk ketiga kali dalam hidup saya kejadian ini berulang. Ketinggalan pesawat! Yang pertama dulu waktu saya mau ke Singapore, mau pameran disana, di galeri Block24, Holland Road. (Iya sengaja gue jelasin, biar pada tau kalo gue pernah pameran di Singapore. Pameran lukisan. Uhuuy!) Waktu itu flightnya dari Jakarta jam 8 pagi. Di  jam 4 saya terbangun dengan sangat terkaget-kaget. Saya ingat paspor saya masih di Bandung. Paspornya  masih di Bandung dan saya sudah di Jakarta, dan harus sampai bandara dalam 2 jam lagi.  Iya iya bego banget, gue tauk.

Ketinggalan yang kedua, waktu saya mau ke Bangkok. Pesawatnya harusnya berangkat sore, tapi saya telat sampai bandara karena acara sebelumnya. Sebelumnya saya dating ke reuni SMA saya di menteng, SMA Kanisius. Bukan masalah reuninya, tapi saat itu saya nyangkut disana gara-gara flirting dengan seorang SPGnya. Setelah itu juga gak berlanjut juga sama si SPG itu. Selain itu sudah bertahun-tahun saya rahasiakan kebodohan ini, sekarang saya certain juga.  Iya iya, yang ini jauh lebih bego.

Yang ketiga, hari kamis kemaren. Seharusnya saya jam 12 sudah take off dan  jam 1 siang sudah di Jakarta siap-siap nonton Morissey. Tapi yang terjadi pas saya sampai di bandara udah gak boleh cek in. Syit! Untuk kali ini saya juga bingung kenapa bisa sampai telat gitu. Beneran deh. Sebetulnya bukan telatnya yang saya sesali, tapi kenapa beberapa hari sebelumnya saya gak melakukan web check in. kenapa juga saya harus ninggalin laptop di kantor jadinya harus ke kantor dulu sebelum ke bandara. Kenapa juga..ah ya sudahlah, ini pasti ada sesuatu yang positif dibalik kejadian negative yang saya alami ini. Saya yakin itu sih.

Ketinggalan pesawat mengingatkan saya pada analogi yang diajarkan oleh pak Tung Desem Waringin. (iya saya pengikut TDW, dahulu di Jakarta saya sering jadi crew seminarnya dan pernah juga mimpin senam di depan 5000 orang. Setidaknya pernah didepan 5000 orang, mayan lah buat CV). Hidup itu tak bisa selalu berlindung dibalik alasan. Saya diajarkan untuk NO EXCUSE! Kalau kita melihat orang lain lebih sukses, itu pasti dia seorang pekerja keras yang terus mau belajar, bukan karena bapak ibunya kaya lah, atau bisnis keluarganya udah establish atau alasan lainnya. Melihat kesuksesan orang kita harus bilang ke diri sendiri, SAYA BISA! Bukan malah begini “ah jelas aja dia bisa, modalnya gede, gue sih gak bisa, gak punya modal”. Meh. Itu sih alasan.

Atau saat kita gagal mengerjakan sesuatu, kadang malah alasan bertubi2  yang kita keluarkan. Waktunya kurang lah, modalnya kurang lah, susah jualan lah atau apalah hal-hal cemen lainnya. Padahal semua alasannya itu kan bisa dicari solusinya. Ya gak?

Analogi kejadian ini ibarat kita yang mau naik pesawat. Kalau kita ketinggalan pesawat, apakah kita bisa ngomong ke pilot atau petugasnya “wah, tadi macet mbak” (padahal kalo macet ya berangkat aja lebih dulu) atau “tadi tas saya ketinggalan di rumah mbak” (peduli amat gue, urusan looowh). Gak bisa kan? Banyak penumpang lain yang juga punya kepentingan lain. Mana bisa nungguin satu penumpang lalu urusan penumpang lain yang lebih banyak bakal terbengkalai? Kalau penumpang yang lain bisa ontime, kenapa orang itu gak bisa? Nah!

Ada pepatah bilang : orang sukses mencari solusi, orang gagal mencari alasan. Nah! Pembelajaran lain adalah, kalau orang-orang aja bisa, kenapa saya gak bisa?

Ketika saya kembali ke kantor, saya sudah tau bakal diketawain orang-orang sekantor. Tak apalah, saya bikin mereka senang hari itu. Seorang kawan juga sempat bilang “loh km gak bilang kalo tadi udah coba web check in tapi gak bisa?” saya bilang “ya udahlah, gak bisa juga ngomong gitu..orang yang lain bisa web check in. emang salah gue aja sik”

Pasti kegagalan saya ke Jakarta ini akan mempertemukan saya dengan seorang turis jepang cantik banget yang naksir berat sama saya. Amiin..

 

 

Sayup sayup terdengar “everyday is like Sunday”-nya Morrissey. Morrissey, semoga umurmu panjang jadi bisa mampir ke Indonesia dan sekitarnya lagi.