About Time the movie.

About Time the movie.

Belum pernah rasanya berniat menulis sesuatu tentang film. Entah itu review atau kritik atau jurnal atau apapun itu, belum pernah. Nah film ini mungkin jadi yang pertama. Menurut saya sih bagus. Kalau kalian Tanya kadar bagusnya seberapa, kalau ditulis lewat messaging ketikan saya akan jadi “baguusss..”. gitu.

Setelah kita dibombardir oleh film romantic di akhir 90-an dengan penampilan imut Meg Ryan atau Sandra Bullock. Awal 2000an masih menyisakan film romantic yang cukup bagus seperti Love Actually, Notebook (film yang kayanya semua cewe suka) atau di 2007 ada The Holiday, Juno, Music and Lyrics (ini jg karena soundtracknya ngehits), PS I love You, dan juga the Lake House (film ini juga adaptasi dari film Asia, berjudul Il Mare). Setelah itu baru ada lagi yang cukup jadi pembicaraan semua orang, (500) Days of Summer di tahun 2009. Selebihnya gak ada film romantis yang banyak dibicarakan orang. Untungnya paradigma romantis film holywood kembali dihancurkan oleh film Twilight, jadi standar romantis film kembali lagi ke titik mendekati nol. Generasi yang besar dengan film-film Meg Ryan pasti menganggap Twilight tidak romantis sama sekali, tapi generasi yang baru gede pasti menganggap Twilight itu sangat romantis. Kalau saya? ya saya kan baru gede, jadi tau sendiri lah.

Awalnya tidak ada ekspektasi berlebih dari film “About Time” ini. Saya hanya menonton karena kebetulan hari itu males kemana-mana. Cerita singkatnya begini:

Tim, si cowo di film ini, ternyata punya keluarga dimana semua keturunan lelakinya bisa time travelling ke masa lalu, tapi gak bisa kembali ke masa depan dalam waktu cepat. Jadi setiap kembali ke masa lalu, ia harus kembali mengikuti masa selanjutnya dalam waktu yang normal. Awalnya Tim memakai ini untuk memperbaiki hal-hal yang awkward saat ia bersama cewe-cewe, karena Tim termasuk seorang yang geek, culun dan tidak gampang bergaul apalagi sama mahluk yang namanya perempuan.

Kemampuan inilah yang juga dipakai Tim untuk mendekati wanita idamannya, Mary. Mary diperankan oleh Rachel Mc Adams yang juga bermain di film dengan tema Time Travel juga, yaitu Time Traveller’s Wife. Jangan-jangan dia juga seorang time traveler. Tapi salah satu yang saya suka di film ini adalah karakter Mary di film ini, cewe yang santai, rileks, pintar, konyol dan senang bercanda. Suka bingiiittss!

Cerita jadi semakin datar setelah Tim berhasil menarik hati Mary dan akhirnya menikahinya. Sampai  pada akhirnya saat Tim tahu ayahnya mengidap kanker dan pada saat ayahnya meninggal,fokus cerita mulai bergeser, ia selalu mengembalikan waktu untuk menikmati hari-hari bersama dengan ayahnya. Kehidupan Tim berhenti sampai di momen ayahnya sebelum meninggal, ia selalu mengembalikan waktu ke saat ayahnya masih hidup. Hingga pada suatu momen kembali kesaat mereka berdua bermain pingpong, Tim memandang ayahnya dengan rasa penuh haru. Sang ayah mengerti dan merasa waktunya sudah datang. Ayahnya meminta satu kali perjalanan kembali ke masa kecil Tim, satu kali saja untuk kemudian merelakan ia meninggal.

Pertemuan dengan Mary, wanita idamannya tidak menjadi porsi yang besar dalam keromantisan film ini. Tapi pada akhirnya hubungan dengan ayahnya lah dan nasihat ayahnya bagaimana harus menikmati hidup itulah yang menjadi point penting di film ini.

Nasihat ayah Tim di film ini:

Tim: ”And so he told me his secret formula for happiness. Part one of the two part plan was that I should just get on with ordinary life, living it day by day, like anyone else.

But then came part two of Dad’s plan. He told me to live every day again almost exactly the same. The first time with all the tensions and worries that stop us noticing how sweet the world can be, but the second time noticing. Okay, Dad. Let’s give it a go.”

One of the best wuote from the movie
One of the best wuote from the movie

 

Quote terakhir di film ini juga jadi ending yang membuat film ini jadi sangat bagus menurut saya. tidak cheesy seperti kebanyakan film Hollywood lainnya. Ending yang datar dan menggantung (seperti kebanyakan film eropa diakhir 90an) memang jadi favorit Hollywood satu decade terakhir ini nampaknya.

Quote penutup di film ini. The best!
Quote penutup di film ini. The best!

 

Awalnya saya menonton film ini, karena saya liat headlinenya adalah : From the creator of Love Actually. Saya suka Love Actually. Kalau kamu suka dengan Inggris. Logat dan aksen inggris juga ungkapan-ungkapan atau idiom dalam conversation orang Inggris, di film ini banyak line-line bagus, coba cek aja disini.

Buat saya, film ini sangat inspiring untuk menghargai apa yang kamu punya dan menjalani apa yang kamu bisa sebaik mungkin. Dan juga karakter Mary, saya suka banget!

 

 


Postingan bukan untuk dipublish

Iya.

Ada postingan yang saya ketik, tapi bukan untuk dipublish. Saya sudah baca lagi. Tapi kamu tidak bisa baca, kenapa? Karena postingannya tidak saya publish. Kenapa tidak dipublish? Karena postingan itu bukan untuk dipublish.

End of conversation.


Tiba – tiba rindu

Tiba - tiba rindu

Ditengah perjalanan mencari makan malam, di sebuah mobil Silvy bernama Yaris, di jalan Suci menuju pusat bergaul anak muda Bandung, tiba-tiba aku rindu kamu. Rindu suasana, keramaian, kesepian, keburu-buruan, kebodohan, ketololan, ketawaan, semuanya. Walau kebersamaan kita selalu berpindah dari Dago Pakar, Kebon Bibit, Teuku Umar,Kyai Luhur, Gempol Wetan sampai rumah terakhir kita di Sidomulyo. Keriaan itu ada dan tetap saja sama. Aku tak tahu harus menyebutmu apa. Disebut kantor? Terlalu formal. Tempat nongkrong? Terlalu santai. Disebut anak kandung, tp sekarang udah hilang entah kemana. Disebut keluarga, tapi sekarang udah mencar semua anggotanya. Wadah kreatifitas? Hehehe..apa pula itu. Apapun sebutannya, dulu semua orang disini punya nama belakang yang sama, ya nama kelompok kita ini.

Tempat ini menyenangkan, semuanya bisa mengeluarkan ide2 gila yang spontan dan akhirnya bisa direalisasikan tanpa ada orang yang mengecilkan ide satu sama lain. Semua punya andil, semua punya ide. Salah satu proyek gila saya, bolakelana, lahir dari obrolan di balkon tempat ini. Begitu juga akun twitter info kota pertama di Indonesia lahir dari kelompok ini. Belum lagi banyak video-video dan foto-foto, gambar, lukisan, lagu, ilustrasi yang keren-keren, semua lahir disini.

Walaupun tiap hari sebelum jam 9 pagi saya sudah disana dan pulang sampai larut malam, saya gak pernah merasa ini sebuah rutinitas yang membosankan, ini rutinitas yang menyenangkan. Bahkan hari libur pun kami masih ingin kesana. Sehari gak bertemu yang lain,terasa sepi. Rasanya tidak ada yang merasa ini sebuah kantor yang membosankan, tapi sebuah tempat ngumpul yang mana setiap individu tetap punya tanggung jawab atas satu nama yang kita usung bersama.

Memang kita semua lebih seperti keluarga, sebuah keluarga yang moderat, demokrasi, tak ada tekanan dan tidak otoriter. Semua punya kesempatan membuat sesuatu. Semua punya hak mengkritik dan memberi masukan satu sama lain. Dari semua itu, akhirnya kami semua menjadi orang yang penuh ide dan lebih kreatif.

Yah, masih banyak hal yang gak bisa saya ceritakan disini. Terlalu banyak memori indah disana. Mungkin ini Cuma semacam rindu dengan romantika masa SMA. Tak akan terulang dengan situasi yang sama persis. Tapi mungkin akan terulang, dengan orang-orang dan tempat yang beda, tapi keriaan yang sama.

Ah mungkin ini Cuma perasaan sentimental sesaat yang tiba tiba.
Tiba tiba rindu Suave.


Melon The Grumpy. My lovely husky.

Melon The Grumpy. My lovely husky.

Aku punya anjing. Melon namanya. Dia sangat menyenangkan, lucu,  bersemangat dan ngangenin. Melon sekilas seperti Alaskan malamute, tp ada ciri2 husky juga disana. Kami bilang dia husky, tp berharap dia seekor malamute. Whatever sih, yg pasti dia lucu banget.

IMG_3248
Yes, I am. I’m Melon!

 

29 Juni 2013. Aku dan Astrid sedang jalan-jalan dengan silvy (mobilku). Seketika keluar ide dr mulutku “ke Otten yuk, liat2 anjing”
“ngapain? Gamau ah. Gamau kalo liat doang hehehe.. Ntar udah aku pegang harus dibeli bawa pulang.”
“hahaha..iya deeh”, kataku sekedar mengiyakan.

Siapa sangka dari pembicaraan impulsive dan singkat ini, kami dipertemukan dengan seekor anjing lucu yang saat itu aku sangat yakin bahwa itu Alaskan malamute. Lalu kami melihat – trus nawar sedikit – ke ATM – balik lagi – bayar. Seketika, si puppy sudah berada di mobilku.

“kasih nama siapa ya?”
ini aja, anu aja, itu aja..eh gimana kalo anu, eh kalo itu? Bla bla bla bla..

Akhirnya di depan pasar sukajadi dalam perjalanan ke PVJ.

“gimana kalo.. Jus melon? Panggilannya Melon?”

Hari pertama Melon kami jemput dan dibawa jalan-jalan ke PVJ

 

Melon menemani hidupku dan Astrid setiap hari di Bandung. Kadang dari pagi sampai malam hari. Nonstop. Kami hanya pernah terlewat selama 5 hari karena harus ke Jakarta dan Melon kami titipkan di rumah Ade, di Lembang.

Aku, Astrid dan Melon di rumah.
Aku, Astrid dan Melon di rumah.

 

Melon puppy yang lucu, usil, nakal, badung, sok jagoan. Setiap lewat, barang yang dilewati pasti digigit. Semua tempat ingin dimasuki, semua sudut ingin dikencingi, semua barang mau dirusak dan semua makanan mau dihabiskan sendiri.

Setiap kami pergi dengan Melon, semua tempat yang kami tuju itu pasti  demi kepentingan Melon. Selama Melon gak bisa bersama kami, mending kami memilih pergi dari tempat itu. Setiap Melon diusir dari restoran, kami memilih diluar atau pergi mencari tempat lain ketimbang Melon harus menunggu di pos satpam atau di mobil.

Setiap Melon pergi, dia selalu menjadi center of attention. Mungkin karena bentuknya yang bulat lucu dipadu dengan mukanya yang sok tahu dan seperti ngedumel setiap saat. Tapi setiap Melon disapa orang dengan sebutan “iih lucu bangeeett..!” dia pasti berusaha gigit tangan orang itu,seakan mau bilang “gue gak lucu! Gue serem!” Karena itu kami menyebutnya Melon the grumpy.

Astrid sangat sayang sama Melon. Setiap malam atau setiap pagi, ia selalu message aku “kangen melon”. Astrid selalu bersemangat setiap mau ketemu Melon, mau jalan-jalan sama Melon dan  juga selalu bersemangat setiap ada orang baru ketemu melon dan bertanya “siapa ini namanya?”

“MELON!” jawab Astrid dengan mata berbinar.

Astrid dan Melon jalan-jalan di komplek.
Astrid dan Melon jalan-jalan di komplek.

 

Di rumah, semua wilayah adalah wilayah Melon, khususnya taman belakang. Semua barang dan tanaman disana gak ada yang selamat dari gigitan dia. Semua karpet di dalam rumah sudah pernah jadi tatakan kencingnya, bahkan karpet di kamarku sudah 2x jadi alas pupnya yang encer itu.

15 Agustus 2013 Melon mendapat teman baru di rumah. Seekor golden bernama Mody,  yang kami tebus untuk diselamatkan dari pemilik lama yang menelantarkannya. Golden itu sudah dewasa, umurnya (katanya) 1,5 tahun, gak terlalu tinggi tapi gendut.  Kekhawatiran kami saat itu adalah, apakah Melon tidak akan dibully Mody? Apakah Mody bisa akur dengan Melon. Tapi ternyata kekhawatiran kami tak terjawab. Mody yang menjadi bulan-bulanan Melon. Melon begitu excited dengan kedatangan Mody. Sepertinya tak cukup dari pagi sampai malam waktu untuk membully Mody. Mody, karena sudah dewasa, bersikap begitu tenang, seperti seorang big brother yang baik hati. Pernah suatu hari Astrid begitu sedih karena Melon tak menggubris kehadirannya di rumah, karena Melon lebih tertarik untuk terus membully Mody ketimbang bermain dengan kami.

Helo, ini Mody!

 

20 Agustus 2013. Selasa malam, kami pulang dari makan malam, mendapati mulut Melon sudah berdarah-darah. Awalnya kami pikir karena digigit Mody, tapi selidik punya selidik ada alibi yang lebih kuat. Ada akrilik tempat CD yang sudah koyak dan ujungnya ada sisi yang tajam yang sangat mungkin menusuk mulut bagian dalam Melon. Malam itu menjadi awal dari 30 jam yang menegangkan buat kami. Esok harinya selama 18 jam lebih, hidup kami hanya untuk membuat bagaimana Melon bisa sehat lagi dan berlari-lari lagi bersama kami (cerita detailnya disini nih..disini). Empat klinik dan tiga dokter hewan kami datangi dengan tujuan satu, Melon harus sembuh!

“Melon pasti sembuh kan ya?” kata Astrid sambil memelukku
“Iya dong sayang, pasti..”

22 Agustus 2013. Jam 05.48 setelah aku tidur sambil berjaga semalaman, aku mendengar rintihan lirih seperti seorang bayi yang nangis teriak-teriak. Sontak aku terbangun dan lari keluar, disana Melon dalam posisi telentang sambil teriak-teriak, seperti ingin memuntahkan sesuatu tapi tak bisa. Aku berusaha menegakkan tubuh dia, berharap dia bisa muntah. Astaga. Tubuhnya lemah sekali. Sangat lemah. Melon langsung aku bawa di mobil menuju rumah Astrid. Sepanjang jalan aku terus memanggil namanya, menyuruh dia berusaha semangat untuk terus sadar. Setelah Astrid masuk ke mobilku terus Melon kita bawa ke klinik terdekat. Astrid terus memegangi Melon. Seketika Melon mengeluarkan suara sambil nengok ke kami, 5 detik kemudian Astrid bilang “Melon udah gak ada,Chuk”.
Sebelum pergi, Melon pamit ke kami, ia memalingkan wajahnya dengan susah payah untuk melihat kami. Dari tatapannya, Melon seperti berkata “aku gak kuat lagi, aku pergi dulu ya”

photo(4)
Melonnya bobo. Pules. Dan gak bangun lagi.

 

Hari kamis tanggal 22 Agustus itu menjadi hari yang sangat menyedihkan untuk kami. Sore harinya, Mody juga harus kami antar ke pemilik baru, karena beberapa alasan, satu hari setelah kami bawa ke rumah, saya memutuskan untuk menghibahkan  Mody ke pemilik baru yang lebih bisa merawat dia, agar kami tetap bisa konsen ke Melon. Satu hari, dua anjing harus pergi. Mody pergi ke rumah pemilik baru dan Melon meninggal tadi pagi.

Aku pernah punya anjing. Melon namanya. Dia sangat menyenangkan, lucu,  bersemangat dan ngangenin. Juga sangat sebentar hidupnya.

Till we meet again Melon. So long.. we love you.

Bye, Ganteng
Bye, Ganteng